-->
Free Alien Dance Cursors at www.totallyfreecursors.com

November Terakhir #KisahNovember

Sabtu, 30 November 2013



“Aku pasti pulang. Apa kamu nggak menemukan muara itu dari pandangan mataku?”
          Aku tertegun mendengarkan kalimatnya. Tak berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut, hanya fokus memandangi wajahnya.
            “Aku pasti kembali, karena kamu muara itu. November tahun depan aku akan menemuimu lagi. Dan itu janjiku.”
***
Ini yang selalu aku sesalkan. Sudah hampir tiga tahun aku terkurung di ruangan gelap ini. Diapit oleh dinding-dinding harapan kosong, bersimbah peluh kebohongan. Berada di dalam lipatan-lipatan kenangan yang mulai mengusang, namun tak menghilangkan rasa yang tersimpan dalam tulisan. Ah..., beberapa puluh menit lagi terhitung tiga tahun aku menunggu ia kembali untuk menemuiku.
          Kata mereka, November selalu memberikan cerita indah dalam desiran angin lembab penggiring awan yang bercepol hitam dari berbagai arah. Membawa guratan-guratan kisah manja di langit senja.
Tapi tidak bagiku!
Aku selalu menghembuskan nafas berat ketika dari kejauhan Oktober mulai melambai-lambaikan tangan meninggalkan peraduan, mengizinkan November untuk menyapa. Sejujurnya aku mulai lelah ketika aku harus dihadapkan kembali dengan bulan itu. Aku bosan setiap hari selama satu bulan penuh menunggu kedatangannya di bandara Ngurah Rai. Aku bosan ketika aku selalu dihalau oleh keraguan. Aku bosan Tuhan!
***
            Aku masih ingat dengan jelas saat ia mengatakan bahwa aku memiliki mata yang indah dengan sejuta puisi cinta tersimpan di dalamnya. Mataku inilah yang katanya selalu membuat ia rindu, dan tak bisa berlama-lama memberi jeda jika ia tak memandangku. Aku juga masih ingat dengan jelas bahwa kepergiannya ke Singapura hanya untuk sementara dan ia akan pulang kembali untuk menemuiku. Tapi nyatanya, apa yang ia ucapkan saat itu hanyalah janji kosong belaka.
           Tiga tahun cukuplah bagiku untuk membuktikan betapa besar rasa cintaku untuknya, hingga aku tetap setia menunggu kedatangannya yang tidak jelas arah. Waktu tiga tahun juga sudah cukup membuktikan bahwa ia bukan laki-laki yang patut untuk aku tunggu. Kalau ia benar mencintaiku, tidak mungkin ia rela membuatku menunggu tanpa kepastian. Pun kalau benar ia mencintaiku, lantas kenapa ia tidak pernah mengirimkan aku selembar kertas berisi kabar nafas kehidupan yang bertabur cerita cinta darinya?
Teman, perkenalkan namaku Inggit; aku seorang gadis yang selalu terbenam dalam November yang kelam. Mengapung dalam lautan ketidakpastian. Jika aku boleh memilih, aku berharap tidak pernah bertemu dengannya, sehingga aku tidak selalu menanti datangnya November yang lagi-lagi mengantarkan kesedihan.
Teman, ini sepotong ceritaku. Aku berharap tidak akan ada lagi wanita-wanita bodoh semacam diriku yang tetap bertahan dengan janji manis laki-laki yang kucinta. Oh, betapa bodohnya aku selama ini tetap menunggunya, tanpa membuka pintu untuk kelain arah.
Kucukupkan penantian itu berakhir pada November kali ini. Untuk berikutnya, aku akan mencoba melupakan penantianku selama tiga tahun belakang, walaupun nanti sebenarnya tetaplah kurindukan laki-laki itu. Laki-laki yang diberi nama oleh kedua orangtuanya; November.

Lomba Novel Home Sweet Home - DIVA Press

Rabu, 02 Oktober 2013

Aku pingin sedikit berbagi dengan pesan-pesan kecil yang disampaikan oleh CEO DIVA Press waktu hari pertama #KampusFiksi4
1. Gak ada mimpi di dunia ini yang nggak bakal terwujud, asal kita mau kerja keras.
2. Seberapa gigih anda, itu yang membuat anda bertahan.
Sebenarnya ada banyak pesan yang disampaikan oleh Bapak @edi_akhiles tapi kayaknya cukup dua itu dulu untuk pengantar Lomba Novel yang hadiahnya jabreeet banget!
Dari pesan yang Pak Edi sampaikan, aku bisa menarik sedikit kesimpulan dari lomba-lomba yang ditembak nggak henti-hentinya. Lomba-lomba itu jelas bertujuan untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah kita gariskan di kepala. Mimpi apa? Ya pasti bukan mimpi jualan gorengan. Apa hubungannya menulis dengan jualan gorengan? Nggak ada, kan?  Mimpi menjadi seorang penulis. Yaaaaa... Dari berbagai macam lomba ini tentunya melatih kita untuk terus menulis, menulis dan menulis, hingga akhirnya suatu saat nanti kita bakal mewujudkan *sinyal ilaaang...

Langsung aja kita korek-korek harta karun yang tersembunyi dari "Lomba Novel Home Sweet Home"
Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, terkadang kita dihadapkan pada pilihan untuk melangkah dan meninggalkan apa yang selama ini kita miliki. Kita memang tidak pernah tahu apa yang akan kita hadapi nanti, tapi jika tetap bertahan, maka hidup akan selalu sama entah sampai kapan.
Merantau dan traveling adalah pilihan yang sudah sangat lazim untuk menemukan sesuatu yang berbeda. Kita tidak pernah tahu seberapa lama kita akan merantau atau sejauh apa kita akan menghabiskan waktu untuk traveling.
Setelah pergi begitu lama dan begitu jauh, akan ada saat kita merindukan rumah. And it’s time to come back home. Bertemu kembali dengan orang-orang yang kita rindukan, melihat rumah tempat kita dibesarkan, menghirup udara yang tidak lagi sama seperti sekian waktu lalu.
Nah, tema “kembali” inilah yang akan diangkat dalam lomba novel Home Sweet Home. Silakan menonjolkan 2 poin di sini, yaitu kehidupan saat berada di tempat yang baru selama sekian waktu hingga proses hingga mengambil keputusan untuk menengok atau bahkan kembali ke kampung halaman. Apa hal-hal yang menarik yang dicari di kampung halaman dan tidak ditemui di tempat yang baru. Silakan ditampilkan dalam konflik yang kuat. Penceritaannya boleh menggunakan metode flash back. Kisah ini boleh berdasarkan kisah nyata atau sepenuhnya fiktif.
Lomba akan dibuka mulai 1 Oktober 2013 dan ditutup 31 Maret 2014, pukul 14.00 WIB.
Ketentuan peserta:
Peserta berusia minimal 18 tahun dan sudah mendapatkan izin orang tua untuk melaksanakan ibadah umrah, berangkat dari Yogyakarta. (info tanggal dan bulan pemberangkatan menyusul).
Ketentuan naskah:
  • Ketebalan naskah 200-250 hlm MS Word, font Times New Roman, size 12,  spasi 2, justified/rata kiri dan kanan, margin 4cm (atas/kiri) 3cm (kanan/bawah), ukuran kertas A4
  • Segmen remaja dan dewasa
  • Naskah adalah karya perseorangan
  • Gunakan gaya bahasa yang ringan
  • Menonjolkan detail karakter/penokohan dengan spesifik, misalnya karakter seseorang dari daerah tertentu, atau ciri yang dikreasikan sendiri hingga pembaca bisa membayangkan tokohnya seperti apa.
  • Setting cerita bebas dan tidak lepas dari detail yang unik
  • Memberikan pesan moral (boleh tersirat/tersurat)
  • Silakan mengirimkan naskah via email: hshdivapress@gmail.com dengan format judul/subject: Nama penulis (judul naskah)
  • Format nama file: Nama penulis (judul naskah)
  • Bodi email dibiarkan kosong saja.
  • Lengkapi dengan biodata narasi, no. HP, twitter, facebook, blog, dan sinopsis lengkap keseluruhan cerita (terpisah dari naskah novel)
  • Setiap peserta silakan LIKE fanpage: Penerbit DIVA Press & de TEENS atau follow @divapress01 & @de_teens
Hadiah
Juara 1:
  • 1 paket umrah (Hadiah ini bisa diwakilkan kepada kerabat dekat dan tidak bisa diuangkan. Paspor dan uang saku ditanggung penerbit)
  • 2 kontrak penerbitan (1 karya yang diikutkan lomba ini dan 1 karya layak terbit lainnya)
  • Sertifikat keikutsertaan
  • Sampel buku
5 nominator masing-masing akan mendapatkan:
  • 2 kontrak penerbitan (1 karya yang diikutkan lomba ini dan 1 karya layak terbit lainnya)
  • Sertifikat keikutsertaan
  • Sampel buku
Lomba ini dipersembahkan oleh DIVA Press Group

Lomba Cerpen #Teenligi Unsa

Kemarin baru aja aku gencatan senjata buat nyelesein #CerpenDuet yang diadain Unsa sampe nggak tidur *yaah siapa suruh jadi DL-er? dan kali ini Unsa ngadain lomba lagi yang temanya "TEENLIGI"
Kalau aku bilang "nggak ada matinya, boleh, kan?" Iya, boleh! Karena yang aku tahu hasil kepo tiap hari Unsa itu memang sengaja buat lomba-lomba cerpen untuk mewadahi penulis-penulis pemula yang seperti aku ini khususnya, dan tentu event-event seperti ini rugi banget dah kalau sampai dilewatkan. Selain menjadi sarana untuk melatih kemampuan dan mencari tahu sebatas mana kemampuan kita dalam hal menulis maka.... *sinyal ilang. Udah ah, jangan panjang lebar langsung aja kita masuk di perbincangan seputar "Lomba Cerpen #Teenligi Unsa.

Assalamualaikum…
Kawan, kalian pasti pernah mendengar hadits nabi yang berbunyi: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR.Bukhari). Berlandaskan hadits tersebut maka lomba Unsa kali ini ingin mengajak kamu untuk menuliskan pesan religi dalam sebuah cerita yang kamu tulis. Utamanya sebuah tema yang mampu menyentuh jiwa remaja untuk selalu melangkah pada jalan yang diridhoi Allah Ta’ala. Dan melalui cerita tersebut, kamu juga bisa meyakinkan pembaca bahwa Dia Maha Pengampun dan lagi Maha Penyayang kepada siapa saja yang ingin mencari cahaya dari sisi gelap atau suram hidupnya. Namun yang harus diperhatikan, karena cerita yang akan kamu tulis ini untuk dikonsumsi remaja, maka hendaklah menggunakan gaya bahasa yang ringan dan sederhana, selayaknya sebuah tulisan yang bergaya teenlit.
Kalau kamu tertarik untuk mengikuti lomba Teenligi Unsa, simak syarat-syarat lombanya sebagai berikut:
-Peserta terbuka untuk umum, tidak dibatasi usia atau pendidikan.
-Cerpen yang diinginkan berupa cerpen remaja islami (Teen Religi) genre BEBAS, tapi bukan komedi atau fantasi.
-Tema umum cerpen: “Pencari Cahaya”, yakni kisah tokoh utama yang bangkit dari keterpurukan dan proses menemukan kembali jati dirinya sebagai seorang muslim/mah sejati.
-Ending harus memberi pesan moral yang mendalam bagi pembaca.
-Usia tokoh 16-23 tahun (SMA-kuliahan).
-Sudut pandang bercerita (POV): bebas.
-Naskah: 12-15 halaman, spasi 2, font Times New Roman ukuran 12 pts, ukuran kertas A4, justified, margin : 4cm(atas)-3cm(bawah)-3cm(kanan)-4cm(kiri).
-Format penulisan nama file naskah (WAJIB): Judul Cerpen + Nama Penulis
-Di akhir naskah sertakan biodata narasi dan sertakan juga nomor HP yang mudah dihubungi (jangan dipisah atau jangan di badan email, badan email biarkan kosong).
-Naskah dikirim dalam 1 email berupa attachment (sisipan) ke email: crewunsa27@yahoo.com dengan subyek #TeenLigi.
-1 peserta hanya boleh mengirim 1 naskah terbaik asli karya sendiri (bukan plagiat) yang belum pernah diterbitkan atau dipublikasikan di media manapun (sebagian atau seluruh naskah) baik cetak maupun online.
-Dicari 15-20 naskah untuk diterbitkan di De Teens.
Hadiah :
-Semua naskah yang lolos akan menerima royalti penerbitan buku + 1 buku tanda terbit.
Naskah akan diseleksi oleh :
1. Crew grup “Untuk Sahabat” (Unsa).
2. Juri Undangan.
3. Redaksi Penerbit De Teens.
-Lomba ini berlangsung selama 2 bulan sejak 1 Oktober – 30 November 2013 batas akhir pukul 12.00 siang.
-Lama penjurian 1 bulan setelah deadline.
-Peserta wajib follow akun twitter @de_teens , @divapress01 dan @unsa27
-Pengumuman daftar nama peserta yang ikutan lomba sebanyak 3 kali selama lomba berlangsung.
Mari kawan, jangan sampai dilewatkan event menarik ini, dan selamat menginspirasi pembaca dengan hasil karyamu. Semoga menjadi amal ibadah karena telah mengajak pembaca kepada jalan dan nilai-nilai kebaikan. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Salam,
-Crew Unsa

Dan salam dari saya, yang lebih lama galau nyari ide ketimbang nulisnya. Hehe

Tugas Mencari Arti Cinta

Sabtu, 21 September 2013



Aku tidak tahu arti cinta yang sesungguhnya, karena yang aku tahu cinta adalah sebuah perjalanan panjang untuk mencari serpihan ceritaku. Apa mungkin itu adalah arti dari cinta? Ya, bagiku mungkin saja, tapi belum tentu bagimu.
***
“Cinta itu apaan sih menurut kamu?” tanyaku, sambil menenteng buku catatan kecil. Sok-sok jadi wartawan untuk satu minggu ke depan.
Laki-laki itu meringis, setelah menyesap es teh yang berembun di pinggiran kantongnya. “Cinta itu...,” Kalimatnya terhenti di ujung lidah. “Ah, buat apaan sih?!” tepisnya. “Jangan-jangan kamu sekarang udah kayak Moza? Jadi wartawan sekolah buat ngepoin anak-anak di sini. Setelah itu kamu publikasikan di mading, dan semua orang bakal tahu siapa aku dan bisa-bisa semua adik kelas bakal nyariin aku karena jatuh cinta dengan kata-kata yang sudah aku buat mengenai arti dari cinta itu.” Ia nyerocos dalam satu tarikan nafas.
“Ha??? Agak lebay nggak sih?!” bantahku dengan iringan kedua alis yang hampir saja menyatu.
***
Hari itu bibirku mendadak mengerucut, telingaku sontak panas ketika mendengar Bu Lusi –guru bahasa indonesia- melontarkan sebuah pertanyaan yang rasanya sangat asing di telinga ini.
“Menurut kalian apa arti dari cinta itu, anak-anak?”
Seluruh siswa laki-laki di kelas teriak histeris, dan para wanita senyum-senyum simpul mendengar pertanyaan iseng dari Bu Lusi. Oh, ayolah, apa hubungannya pertanyaan itu dengan materi yang disampaikan oleh Bu Lusi kali ini mengenai cara membuat surat lamaran kerja? Lumayan terlihat konyol.
“Cinta itu kayak air, Buk. Nggak bisa digenggam. Kita cuma bisa memandanginya aja,” celetuk Dimas
“Dia itu lagi patah hati, Buk,” ceplos Angga seenaknya.
Ku pandangi Bu Lusi hanya tersenyum sambil manggut-manggut. “Ada yang lain?”
Olin mengacungkan tangan. “Cinta itu kayak pelangi, Buk. Memberikan warna yang berbeda dan membuat hidup lebih terasa. Indah banget dah pokoknya.”
Para lelaki di pojokan langsung bersiul kegirangan, mendengar jawaban manis dari gadis yang berlabelkan wanita pujaan di sekolah ini.
Aku kira pertanyaan Bu Lusi hanya hiburan semata disaat semua siswanya dilanda ngantuk berat. Tapi, nyatanya pertanyaan itu malah dibuat tugas harian yang bakal dikumpul satu minggu kemudian. Konyolnya lagi, pertanyaan itu harus diberikan untuk lawan jenis, hanya satu orang saja dengan jawaban yang berbeda-beda.
***
“Aku  membiarkan cinta itu mengalir bagai rintik-rintik hujan yang setia memberikan kehidupan untuk sang pohon,” kata Dorez, meyakiniku yang kebingungan mencari arti cinta.
“Berarti, cinta itu berbicara tentang kesetiaan?” tanyaku lagi.
“Ya!!!” serunya bersemangat.
Dengan cepat aku mencatat perkataan Dorez. Buku catatanku kali ini terisi dengan ucapan manis darinya setelah aku merayunya untuk menjawab tugas dari Bu Lusi dan sudah pasti dengan iming-iming satu kantong es teh kesukaan Dorez.
***
Sengaja aku biarkan lukisan alam mengantarkan potongan cerita indah dari perjalananku mencari arti dari cinta yang dilayangkan ke langit-langit kebahagiaan. Titik-titik hujan yang turun dari langit ku jadikan sebagai tinta untuk menuliskan arti-arti cinta dari orang yang memberikan penjelasan padaku
“Agak lebay nggak sih?!” Dorez muncul di belakang punggungku, senyum-senyum manja setelah membaca tulisan pendekku di buku harian saat bel istirahat berbunyi.
Aku langsung menutup buku harianku. “Kita kan janjiannya di kantin. Kok kamu mampir ke kelas aku?!”
“Ya nggak apa-apa lagi! Asal kamu tahu ya, semua cewek di sekolah ini maunya dimampirin sama aku. Minta tanda tangan, foto dan...”
“Udah, udah. Jangan mulai lagi alay-nya,” potongku cepat.
“Ya, kamu sih. Harusnya kamu senang dong aku mampirin. Mumpung aku ada ide buat jawab pertanyaan kamu.”
Kalau boleh aku katakan Dorez memang sedikit berlebihan, apa lagi semenjak novel yang ia tulis dua tahun belakangan nangkring di rak toko buku. Aku akui ia lumayan puitis, memainkan kata-kata dengan sangat manis, belum lagi ditambah dengan lukisan wajah yang sangat indah. Tak heran kalau separuh dari adik kelas jatuh cinta dengannya. Aku mengenal Dorez sudah empat tahun yang lalu, di acara ulang tahun Intan –teman satu kelasku yang ternyata masih saudara jauh dengan Dorez.
Aku menghela nafas berat. “Apa arti cinta?” tanyaku malas.
“Kamu niat nggak sih ngerjain tugas?!” Ia menepuk dahiku.
“Aw!” Aku mengelus-ngelus dahiku dengan muka terlipat. “Iya, iya. Menurut kamu apa arti cinta?” tanyaku dengan senyum yang dibuat-buat.
“Hm! Catet ya,” perintahnya. “Cinta itu seperti bulan yang tidak pernah lelah menanti untuk bertemu dengan sang matahari walau hanya terjadi satu kali saja.” Dorez berucap lagi.
“Berarti cinta itu adalah sebuah penantian,” balasku.
“Betul, Yuka,” ujarnya. “Romantis kan aku?”
Aku tersenyum manis, menampilkan bolongan kecil di sela-sela pipi merahku. “Ya, lumayan,” kataku pendek. Walau sebenarnya hatiku melepuh.
***
Aku memandangi wajah mungin ini di cermin kecil yang selalu aku bawa ke sekolah. Tersenyum sendiri, sesekali merapikan kunciran yang seringkali ditarik oleh Dorez tiap kali aku melintasi kelasnya, lalu tersenyum lagi. Kata Dorez wanita yang rambutnya dikuncir itu terlihat seksi. Entah ia melihat dari sudut mana.
“Eh, butuh berapa jawaban lagi?” tanya Dorez.
“Kata Bu Lusi sebanyak-banyaknya. Kamu bisa jawab berapa banyak?”
“Ya, kalau aku sih sebanyak-banyaknya bisa. Tapi, aku nggak yakin kalau kamu mau nulisin semuanya.”
Ia tertawa kencang di dalam kantin, berhasil menemukan titik kelemahanku yang sebenarnya sama sekali tidak tertarik untuk menulis. Kalau anak-anak di kelas sibuk mencatat saat guru menjelaskan materi pelajaran, maka saat itu aku akan sibuk merekam penjelasan dari guru lewat handphone-ku.
            “Sudah ah! Jangan suka mainin anak orang,” kataku sambil meninggalkan ia yang masih sibuk dengan satu mangkuk baksonya. “Pulang sekolah nanti aku tunggu di kelas.”
            “Iya,” balasnya pendek sambil mengunyah gumpalan daging bakso.
***
            Sapuan angin manja menerbangkan beberapa dedaunan yang bertebaran di depan kelas, yang nantinya bakal membuat tukang sapu sekolah bekerja lebih ekstra. Langit nampaknya mulai melukiskan wajah muram. Sedih? Sepertinya begitu, terlihat dari awannya yang menghitam. Burung-burung yang biasanya duduk manja di kabel listrik sudah pulang ke sangkarnya masing-masing, dan satu-persatu siswa mulai meninggalkan sekolah.
            “Nungguin Dorez buat nyelesain tugas?” tanya Olin sebelum meninggalkan kelas dengan wajah sinis. “SMS aja nggak bisa ya? Atau telpon?”
            “Dorez nggak mau ngasih nomer handphone-nya,” jawabku acuh tak acuh.
            “Ya, wajar sih.” Ia melengos tanpa berdosa.
            Ini tugas macam apa? Aku menggeram dalam hati. Tugas yang Ibu Lusi berikan benar-benar mengundang kontroversi, khususnya untuk murid perempuan yang mengidolakan Dorez di sekolah. Sejenis cemburu akut karena beberapa hari ini Dorez dan aku sering jalan berdua di sekolah. Bahkan, ada adik kelas yang sengaja mengirim sms yang isinya; “Kak, kakak ini pacarnya kak Dorez, ya?”
            Belum lagi tingkah Olin yang benar-benar berubah setelah mengetahui kalau yang menjawab pertanyaanku tentang tugas dari Bu Lusi itu adalah Dorez.
            “Udah lama ya nunggu?” Dorez tiba dengan tumpukan buku di tangannya.
            “Sebenarnya nggak, tapi gara-gara cewek yang ngidolain kamu berhasil bikin kepalaku panas rasanya lama banget nungguin kamu.”
            “Siapa?”
            “Olin!” jawabku dengan nada menyentak. “Kenapa kamu nggak ngash nomor hanpdhone kamu aja sih?! Biar aku bisa minta jawaban tanpa harus ketemu sama kamu.”
            Dorez meletakkan tumpukkan bukunya di atas meja, tepat di samping tas-ku yang masih tergeletak. “Kamu nggak seneng ketemu sama aku? Semua cewek di sini malah rebutan mau ketemuan sama aku, eh kamu kok malah nggak mau. Kamu ngebayangin nggak sih kalau...”
            “Udah, udah. Ngomongnya nggak usah panjang lebar,” potongku. “Gara-gara kita sering ketemu ini banyak orang yang nggak suka sama aku. Mereka kira aku...”
            “Kita pacaran? Gitu?! Hahaha.” Dorez tertawa terbahak-bahak, sampai pangkal lidahnya terlihat dari retina mataku.
            “Apa ada yang lucu....?” Aku menepuk dahinya.
            Dorez meringis kesakitan. “Eh, eh, eh. Selama ini nggak ada ya yang berani mukul aku!”
            “Kecuali aku!!!” timpalku garang.
***
Banyak hal yang aku tangkap dari perbincanganku dengan Dorez beberapa hari yang lalu, termasuk kemarin saat langit gelap dan siap mengguyur bumi dengan air matanya. Ia memandangi langit yang menumpahkan kesedihan. Saat itu juga ia mengatakan kalau cinta itu adalah kesedihan, kesedihan yang sengaja didatangkan demi membuat orang yang di sayang bahagia.
“Boleh aku katakan kalau cinta itu pengorbanan?”
“Iya, betul sekali, Yuka!”
Lagi-lagi aku mencatat kalimat manis yang keluar dari bibir tipisnya. Sampai saat ini baru tercatat tiga kalimat mengenai arti cinta darinya. Kalau ia tanya butuh berapa lagi? Maka aku akan menjawab sebanyak-banyaknya.
“Kenapa Bu Lusi nggak ngasih tugas itu di kelas kami ya?”
“Kamu mau dapat tugas seperti itu?” Aku mengipaskan tangan di depan wajahnya.
“Memangnya kenapa? Ada yang salah?”
“Enggak sih. Tapi kamu mau minta jawaban sama siapa?”
Dorez hanya tersenyum. Demi langit yang memiliki istana, senyum itu sangatlah manis.
***
Dua hari lagi tugas Bu Lusi akan dikumpulkan, tapi sayangnya Dorez sudah kehabisan akal untuk menjawab pertanyaanku. Aku mulai bosan, hingga aku memutuskan hanya tiga jawaban yang akan aku kumpulkan pada Bu Lusi dipelajaran bahasa indonesia nanti.
“Jadi cinta  itu adalah sebuah kesetiaan, penantian dan pengorbanan. Seperti air yang setia, bulan yang tidak pernah lelah menanti, dan hujan yang rela berkorban.”
“Kamu salah,” potong Dorez.
Aku memicingkan mata, memandanginya dengan tatapan menyelidik. “Apanya yang salah? Itukan jawaban kamu.”
Ia menepuk-nepuk dahiku, tapi kali ini dengan sangat lembut. “Cinta itu adalah...”
“Tunggu-tunggu, aku ngambil buku catatan dulu.”
“Nggak usah! Catet di sini aja.” Ia mengarahkan tanganku di dadanya.
Aku menyipitkan mata, memandangi siswa di sekitaran lorong kelas yang saat itu memandangiku dan Dorez.
“Cinta itu adalah... kamu Yuka. Kayaknya aku harus pacaran dulu sama kamu biar aku bisa menjawab arti dari cinta itu.”
Aku melongo memandangi Dorez yang saat itu masih memegang tanganku. “Kamu sakit?”
“Ya, bisa dibilang sakit! Sakit karena karena terlalu lama memendam perasaan ini.”

Audisi Menulis "Cinta Terpendam” dari Mozaik Indie Publisher (DL: 9 Oktober 2013)

Rabu, 11 September 2013

Banyak yang bilang jatuh cinta berjuta rasanya, apalagi jatuh cinta untuk pertama kali. Saat kedua mata bertemu, saat harapanku ada padanya, saat keindahan duniawi terpancar alamiah, saat itu pula aku hanya bisa memendam rasa. Bukan karna aku tak mampu menggapai, tapi ada seseorang yang sedang menggenggam erat tangannya. Atau kepribadiannya yang terlalu sempurna yang tak mungkin kumiliki. Atau mungkin ada alasan tertentu lainnya.
Mozaiker pernah mengalami hal serupa? Jangan hanya menjadi pengagum, memandangnya dengan jarak 2 meter sudah membuat bahagia. Ini saatnya Mozaiker membuat event untuk kalian. Tuangkan semua ide gilamu tentang cinta terpendam dalam sebuah tulisan.

SYARAT &KETENTUAN:
1.      Lomba terbuka untuk umum.
2.      Wajib me-Like fanpage MozaikIndie Publisher, meng-add FB Mozaik Indie Publisher dan  Nova Pjn (https://www.facebook.com/nova.blank) sebagai PJ event.
3.      Peserta wajib menyebarluaskan info lomba ini dengan cara meng-copy-paste di catatan FB masing-masing. Tag 20teman FB termasuk FB  Mozaik IndiePublisher dan  Nova Pjn (sebagai buktitelah mendaftar event ini).
Jikalewat blog, maka kamu harus publish blogmu di twitter dengan format: #AudisiCintaTerpendam[linkblogmu] mention: @MozaikIndie dan minim 5 orang temanmu.
4.      Kisah nyata yang belum pernah dipublikasikan, bisa kisah sendiri (sudut pandang orang pertama, aku atau saya) atau menceritakan orang lain dengan sudut pandang orangketiga (dia), nama orangnya boleh disamarkan. Jika yang ditulis adalah kisah orang lain maka harus ada keterangan dari orang yang bersangkutan bahwa itu adalah kisah nyata.
5.      Tiap peserta hanya boleh mengirimkan masing-masing 1 naskah terbaiknya.
6.      Ditulis di kertas A4, Font; Times New Roman, ukuran huruf 12, spasi 1,5, margin 3333(cm),  tidak mengandung SARA dan Pornografi.
7.      Panjang naskah 6-8 halaman, dan harus menyertakan biodata narasi maksimal 100 kata diakhir naskah.
8.      Kirimnaskah kamu ke email audisicintaterpendam@yahoo.com dengan ketentuan subject dan nama file sbb : CT_nama penulis_judul naskah. Contoh :CP_Merry Januarti_Kusentuh dalam mimpimu. Semua berkas dilampirkan di attachment, jangan di badan email.
9.      Update peserta bisa dilihat di catatan FB Nova Pjn yang akan dilakukan 1 minggusekali.
10.  Lomba dimulai hari ini 9 September 2013 dengan deadline 9 Oktober 2013. Pengumuman peserta yang lolos menyusul tergantung kondisi dan banyaknya naskah yang masuk.

REWARD
-20 naskah yang lolos akan dibukukan di MozaikIndie Publisher. Jika kualitas naskah sangat menjual, akan kami coba ajukan dulu ke penerbit mayor.
- 2 naskah terbaik berhak mendapat 1 bukti buku terbit dan sovenir cantik dari PJ.
- Semua penulis kontributor terpilih mendapatkan royalti berupa potongan harga 15% per buku yang dapat dipesan melalui Mozaik Indie Publisher .Sehingga semakin banyak buku yang kamu jual sebanyak itu pula royalti yang kamu peroleh. Kita sama-sama bisa mempromosikan bukunya dan menjualnya.

Jika ada hal yang kurang jelas dan ingin ditanyakan, harap ajukan pertanyaan di Mozaik Indie Publisher, NovaPjn atau bisa juga ke @MozaikIndie

Oke, Kamu Menang!

Selasa, 10 September 2013

doc. google
Selamat malam angin yang menyapu kelopak mata! Selamat malam lolongan anjing yang terus mengganggu. Aku sudah menghabiskan separuh tenaga untuk meluapkan perasaan. Tapi hasilnya hanya beberapa butir kata yang menari-nari di atas kertas lusuh dengan cat noda di pinggirannya.
"Nanti saja selesaikan," kata hatiku sebagian.
Aku berdehem. "Gimana kalau nggak sempet lagi ngerjainnya?"
"Yaudah nanti aja," jawabnya cepat.
Aku memandangi laptop dengan meringis. Lensa mataku menangkap layar laptop dengan buram. Seperti semut yang berkerumun mengelilingi donat manis.
Aku menghela nafas panjang, ragu. "Gimana, nih?" tanyaku ulang.
"Udah! Nanti aja lanjutinnya. Toh masih bisa besok-besok kamu ngerjainnya."
Aku berpikir ulang. "Iya, deh." Aku menutup laptopku dengan semangat 45.

Catatan Wanita Calon Penghuni Surga

Senin, 04 Maret 2013


Bagaimana akan mendapat istri sekualitas Hajar jika tak setegar Ibrahim?
Bagaimana akan mendapat istri seperti Sayyidah Rasya Rantisi jika tak setangguh Abdul Aziz Rantisi ?
Bagaimana akan mendapat suami semacam Abdullah Azzam sang reviver jihad abad 20 jika tak seikhlas Ummu Muhammad dan bagaimana akan Mendapat suami seperti Ali Karramallahu wajha jika tak sebobot Fatimah Azzahra.
Kalimat yang aku kutip dari buku “Agar Jatuh Cinta Tak Menjadi Bencana” cukup membuat hatiku bergetar.
Ngomongin masalah cinta, tak lepas dari kehidupan, dan ngomongin masalah kehidupan pasti selalu butuh perjuangan, yaa hidup adalah perjuangan dan tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.
Sama halnya dengan pengorbanan Rasullullah yang harus meninggalkan Mekkah dan pengorbanan Ali sebagai umpan.
Begitu juga dengan berhijrah untuk hal kebaikan, memutuskan sesuatu untuk kebaikan pasti ada hal yang akan di korbankan, baik itu harta, tenanga, bahkan perasaan.
Ya… aku harus mengorbankan perasaan demi suatu kebaikan yang jelas terbentang dihadapanku.
Aku terkadang berharap kelak nantinya kan aku temukan seorang lelaki yang tak hanya indah paras namun indah pulalah akhlaknya, yang mampu membimbingku menuju Jannah-Nya. Seketika aku terdiam mengingat harapan-harapanku mengenai jodohku saat itu.
Namun hatiku seolah berkata, teriak dengan sekencang-kencangnya. Jangan kau terlalu berharap akan mendapatkan pasangan hidup yang baik jika kau tak berusaha memperbaiki diri. Jangan kau kira Allah akan memberikan pasangan hidup yang suci jika diri sendiri tak mensucikan diri.
Aku sedikit tersadar akan mimpi-mimpi yang ku cipta, dan aku mulai untuk menghapus mimpi-mimpi itu dan fokus memperbaiki diriku.
Terkadang aku lelah dengan hati yang hampa, namun lagi-lagi hatiku seolah berbicara. Jangan takut merasa sepi, karena yakinlah Allah selalu ada di hati. Jangan resah memikirkannya yang belum tentu memikirkan mu, percayalah Allah selalu mencinta tanpa membuatmu resah.
Seketika aku tersenyum kembali, menebarkan pesona indahnya senyum wanita calon penghuni surga.
Janji Allah selalu meyakinkanku bahwa Lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik, dan begitu pula sebaliknya. Itulah yang meyakinkan ku untuk melepas lelaki yang kusayang, namun yang kusadari lelaki yang kusayang belum tentu pemilik tulang rusukku dan belum tentu mencintai aku seperti Allah mencintai aku dengan setulusnya.
Aku tersadar, ketika aku memberikan cintaku kepada orang yang belum pantas untukku cinta, aku tersadar ketika cintaku membawa pengaruh buruk unruk diriku. Jangan kau sangka
pengaruh buruk itu hanya dalam lingkup “berpegang-pegangan atau lainnya” namun lebih dari itu betapa hinanya aku ketika aku sedang sholat yang terlintas di benakku, lelaki yang saat itu jelas bukan mahramku. Betapa sedihnya aku disaat aku harus merasakan nikmatnya cinta Tuhanku kini tertutupi dengan cinta orang yang belum tentu menjadi kekasih kekalku.
Aku putuskan untuk berusaha menjauhi perasaan cinta yang terkadang datang dengan tiba-tiba.
Aku selalu menanti sampai Allah mempertemukan kami, di waktu yang tepat dengan cinta penuh kesucian dan penuh harapan.
Yaa… dalam ikatan cinta yang suci dan berbalut keindahan tentunya.


Kan ku bangun rumah yang mewah bersamanya, kan ku bangun anak tangga bersamanya untuk menuju Jannah-Nya.
Aku tidak tau siapa dia, karena itu rahasia Allah. Tapi yang aku yakin dia pasti menjaga cintanya sama seperti aku saat ini. InsyaAllah.
Lagi-lagi bibir ini merekah, menebarkan  pesona indahnya senyum wanita calon penghuni surga.